Tata Cara Puasa Ngebeleng

Puasa ngebleng adalah puasa yang dilakukan dengan tanpa putus dari hari dimulainya puasa hingga berakhirnya puasa. Pada waktu melakukan puasa ini, seorang ritualis melakukannya tanpa makan dan minum sama sekali dalam kurun waktu minimal tiga hingga empat puluh hari.

Secara logika manusia tidak akan mampu bertahan hidup jika tidak ada makanan yang dikonsumsi selama kurun waktu tertentu. Tetapi pada kenyataannya ada sebagian orang mampu menahan lapar dan menghentikan kegiatan mengkonsumsi makanan selama melakukan ritual.

Penguasaan kekuatan gaib dalam diri ritualis memang akan terasa lebih cepat dengan melakukan puasa jenis ini. Biasanya ditujukan pada seputaran ilmu yang merniliki sifat untuk kekerasan (kekebalan), pencurian (panglimanan: kesaktian yang dapat membuat orang menghilang dari pandangan ), dan lain sebagainya.

Oleh sebagian spiritual kasepuhan, aliran yang melaksanakanritual puasa jenis ini disebut sebagai aliran kajiman. Karena keberadaan peranan dari aakhluk halus yang berupa jin akan memiliki peran utama. Dalam aplikasinya keberadaan makhluk halus tidak diperlukan secara mutlak, tetapi ada kalangan tertentu yang memanfaatkan makhluk haltis sebagai medianya. Menurut pendapat ilmu kasepuhan Puasa jenis ini dianggap sebagai puasa yang tidak benar karena yang dinamakan sebuah puasa hanya berlangsung sebelum matahari terbit hingga matahari tenggelam.

Jika melakukan jenis puasa atau ritual ngebleng, secara pasti ilmu atau kekuatan gaib yang diambil adalah kekuatan makhluk halus bangsa jin. Dinilai juga dengan melakukan puasa ngebleng akan sedikit banyak menyatukan atau menjadikan diri pelaku menjadi separuh manusia dan separuh makhluk halus.

Secara ijdak langsung manusia akan sedikit berjiwa hampir menyamai makhluk halus jika melakukan puasa jenis ini minimal tiga hari. Dengan dernikian menguasai ilmu bangs a jin akan membuat pelaku ritual sedikit banyak memiliki sifat jin, yaitu tidak mudah meninggal.

Pada akhirnya pelaku pada usia tua akan mengalami siksaan jiwa dan raga berupa siksaan seba, gai berikut: Sulit menemui ajal Secara normal manusia di zaman ini memiliki usia hingga 70-an tahun.

Tetapi dengan menguasai ilmu kajiman dan dengan tingkatan yang tinggi, maka manusia akan sedikit banyak memiliki sifat usia yang mirip bangsa jin. Manusia sebagai pelaku akan mendapatkan kekuatan gaib untuk ti9ak mudah dilukai dengan senjata, dibunuh, atau terhindar dati kematian untuk semen tara waktu.

Pegangan berupa ilmu kekuatan gaib yang berada di dalarn pelaku ritual akan memberikan kemampuan lebih untuk bertahan. Dengan dernikian sang pelaku akan sulit menemui ajal meskipun sudah lewat batas usia dan kemampuan fisiknya. Secara perlahan pelaku akan disiksa karena ilmunya sendiri.

Pikiran masih dapat berjalari sedangkan fisik tidak mendukung. Untuk mengatakarrsesuatu yang-bisa dikatakan sebagai hal yang logis pun sudah tidak bisa (mampu); maka untuk mengatakan bagaimana car a untuk melepas·kan ilmu atau kekuatan gaib yang ada dalam diri sudah tidak bisa lagi.

Dengan demikian kekuatan gaib tersebut akan lebih sulit jika tidak ada kesepakatan antara pemilik ilmu dan pelaku pelepas ilmu untuk melepas ilmu. Memerlukan syarat pelepasan ilmu yang ada di dalam diri pelaku. Syarat untuk melepaskart ilmu atau kekuatan gaib yang ada dalam diri pelaku ritual biasanya hanya diketahui oleh orang yang juga memiliki kemampuan yang sama. Jika melakukan puasa ini dengan jalan belajar sendiri (otodidak) maka kemungkinan untuk melepaskan ilmu yang diperolehnya akan menemui banyak kesulitan.

Hal kecil yang dilakukan saat manusia dalam keadaan sehat jasmani dan rohani inemang bisa membawa dampak hingga usia tua. Selagi masih bisa dimanfaatkan dengan dukungan fisik maka kekuatan gaib akan dapat membantu diri pemilik. Tetapi pada akhirnya saat fisik dan pikiran sudah tidak dapat memberikan dukungan, maka kekuatan gaib yang ada dalam diri manusia tidak akan banyak membantu pemilik.

Mungkin Anda Menyukai

WhatsApp chat