Misteri Sawanen – Ciri Dan Penyebab Terkena Sawanen

Misteri Sawanen – Sawanen atau Kena Sawan merupakan kondisi anak-anak, Khususnya balita, tiba-tiba mengalami perubahan pada perilaku. Mereka terlihat tidak wajar tidak senormal seperti biasanya, atau penderita mendadak sakit atau kurang enak badan, dan hal itu diketahui penyebabnya, atau  tanpa alasan jelas yang lebih dikaitkan dengan hal-hal mistis.

Misteri Sawanen

Misteri Sawanen ini biasanya menimpa pada anak-anak saja, tetapi juga bisa menimpa pada ibu hamil. Bahkan Anda juga yang sudah dewasa-pun bisa mengalami Sawanen.

Berikut ciri-ciri orang yang terkena sawanen :

  • Anak-anak tiba-tiba menjadi rewel atau sering menangis tidak wajar, tidak tau apa yang dimintanya, bahkan bisa menangis sepanjang malam.
  • Anak-anak menjadi lebih sensintif sehingga mudah marah, merajuk dan menagis.
  • Anak-anak mudah kaget.
  • Pada malam hari anak-anak tidak bisa tidur nyenyak, sering terjaga saat tidur (sebentar-sebentar bangun), dan merasa ketakutan.
  • Anak menjadi lebih manja, tidak mau lepas dari gendongan ibunya siang maupun malam.
  • Suhu badan meningkat (Panas Demam), sementara pada bagian telinga dan telapak kaki terasa dingin.
  • Sebagian ada anak mendadak diam dengan mata melotot, dan juga bisa disertai kejang-kejang.
  • Anak tidak mau makan atau menyusu.
  • Anak terlihat kurus dan lesu padahal asupan makanan normal.
  • Tidak sembuh padahal sudah diperiksakan secara medis.

Dengan melihat kejanggalan misteri sawanen, orang selalu mengaitkannya dengan hal mistis, dan bisa disebabkan oleh hal-hal yang tidak masuk akal, namun hal ini sudah dipercayai secara turun temurun.

Sawanen

Beberapa Kasus Penyebab Terkena Sawan:

  1. Takziah atau melayat orang meninggal

Anak-anak sebaiknya tidak diajak pergi melayat (ta’ziyah), setelah melayat semua barang yang kita pakai dan kita bawa ketika melayat harus ditaruh dulu diluar rumah sebelum dibawa masuk, hal ini dilakukan agar anak tidak Kena Sawan Mayit. Bila sudah Kena Sawan Mayit maka mengobatinya harus mencapur Sawanan (Ramuan yang terdiri dari Bangle dan Dlingo) di campur tanah bekas terkena air saat memandikan jenazah. Dan kemudian ramuan tersebut kemudian di balurkan ke seluruh tubuh.

2. Acara Pernikahan

Anak balita juga dianjurkan oleh para orangtua kita untuk tidak diajak ke acara-acara tertentu, seperti: acara Walimatul ‘ursy (acara pernikahan), agar anak tidak Kena Sawan Manten. Bila anak kena Sawan Manten (pengantin) maka mengatasinya adalah dengan memberikan ramuan Sawanan tadi yang telah dicampur bunga yang telah digunakan oleh kedua mempelai. Atau bila ingin menangkal Sawanen Manten ketika anak diajak ke resepesi pernikahan, maka ibu biasanya meminta sedikit bunga yang digunakan oleh kedua mempelai, dan kemudian bunga tersebut dibawa oleh ibu dengan mengikatkannya di ujung kain gendongan si anak.

3. Menjenguk Bayi Lahir

Anak balita juga sebaiknya tidak diajak Tilik Bayi (menjenguk kerabat atau teman yang habis melahirkan) agar anak kita tidak Kena Sawan Bayi. Untuk menangkal dan mengatasi anak yang terkena Sawan Bayi, umumnya kita dianjurkan untuk meminta sedikit bedak bayi yang habis kita jenguk, kemudian mengoleskannya ke anak.

4. Makan Daging Kambing

Bahkan ibu hamil juga di larang makan daging kambing, “Mengko ndak sawanen wedus” (Nanti bisa Kena Sawan Kambing) kata orangtua jaman dulu. Karena menurut orangtua jaman dulu, makanan yang berasal dari mahkluk bernyawa, bisa nyawani (membuat Sawanen) pada janin yang dikandung bila dikonsumsi oleh ibu hamil. Itulah yang menyebabkan perut ibu merasa melilit-lilit (kram) setelah makan makanan tertentu. Untuk mengatasi Sawan Kambing ini kita diharuskan membakar sisa tulang kambing, dan abu dari tulang kambing yang habis dibakar tersebut dicampur dengan minyak atau Ramuan sawanan yang kemudian dioleskan ke perut ibu hamil.

Kasus di atas bila dilihat memang tidak rasional untuk masa sekarang ini, sama seperti larangan orang tua kita yang melarang  membawa anak kecil keluar rumah saat Mahgrib tiba, karena bisa membuat anak menjadi rewel akibat diganggu mahkluk halus.

Bila kita tangkap, larangan tersebut mengandung pesan moral. Adapun maksud yang tersirat agar anak tidak merasa kedinginan, yang bisa menyebabkannya “masuk angin”, karena kondisi diluar rumah waktu Mahgrib adalah waktu dimana udara mengalami penurunan suhu yang drastis dari panas ke dingin, dan di dalam rumah tentu saja udara cenderung lebih stabil (hangat). Sementara  sisi spiritualnya, waktu Mahgrib adalah waktu buat kita orang muslim untuk beribadah Sholat Mahgrib.

Jadi, begitu juga dengan larangan untuk kita jangan mengajak anak-anak (terutama bayi) untuk melayat atau pergi ke acara tertentu seperti: resepsi pernikahan. Karena daya tahan anak yang masih rendah, akan membuatnya rentan tertular virus, bakteri atau kuman penyebab penyakit ketika berada di tempat keramaian tersebut. Misalnya saja, di acara tersebut ada salah seorang menderita flu, maka kemungkinan besar anak bisa tertular virus flu. Jadi bila sepulang dari melayat atau acara pernikahan anak tiba-tiba menjadi gelisah dan badannya panas, bukan tidak mungkin anak itu demam hanya karena terinfeksi oleh virus atau kuman. Bukan berhubungan dengan hal yang berbau mistis.

Selain dari pada itu, anak-anak yang punya riwayat Epilepsi, juga memiliki risiko kambuh lebih besar ketika di ajak berada pada kerumunan banyak orang. Inilah yang mungkin terjadi pada anak yang tiba-tiba mengalami kejang dengan mata melotot ketika diajak ta’ziyah, ke acara pernikahan atau acara keramaian lainnya. Dengan kejadian seperti ini orang awam lalu menghubungkannya dengan hal-hal berbau mistis, yaitu terkena sawan. Begitulah jawaban secara medis mengenai misteri sawanen.

Demikian artikel mengenai misteri sawanen, semoga bermanfaat bagi Anda.

ARTIKEL LAINNYA : APA ITU SAWANEN

Gelang Gaharu

Mungkin Anda juga menyukai

WhatsApp chat